DAPATKAN HERBAL DI TOKO HERBAL07

Jumat, 30 Maret 2012

Pengobatan Medis Asam Urat

Pengobatan Medis Asam Urat

Berbagai upaya ditempuh oleh para penderita asam urat untuk menghilangkan ketidaknyamanan yang mereka rasakan akibat tingginya kadar asam urat. Sebagian besar orang lebih memilih jalur medis untuk mengobati penyakit ini. Namun banyak juga yang telah lama menempuh jalur medis tapi kesembuhan belum datang juga. Karena itu banyak orang yang mencoba beralih ke pengobatan alternatif. Hal sebaliknya pun terjadi. Ada diantara orang yang semula mengupayakan pengobatan sendiri dengan memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan yang ada disekitar. Namun karena penyakit tidak kunjung sembuh atau bahkan semakin parah, maka banyak orang yang memutuskan untuk melakukan pengobatan secara medis.

Pengobatan secara medis biasanya memanfaatkan berbagai macam bahan obat yang telah diolah secara kimia. Bahan-bahan obat tersebut diracik sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menghalau penyakit asam urat. Dosis pada obat dapat diketahui secara lebih pasti sehingga pengguna obat harus menggunakannya sesuai aturan yang telah ditetapkan. Secara medis, obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi keluhan asam urat antara lain:
  1. Kolkisin
Obat ini memberikan hasil yang cukup baik jika diberikan pada saat awal serangan. Namun efek dari obat ini kurang memuaskan jika pemberiannya dilakukan setelah beberapa hari serangan pertama. Obat ini harus digunakan secara hati-hati karena memiliki toksisitas yang berat. Cara pemberiannya dapat melalui:
  • Intravena
Cara ini diberikan untuk menghindari gangguan GTT. Dosis yang diberikan tunggal 3 mg. Dosis kumulatif yang diberikan tidak boleh melebihi 4 mg dalam 24 jam.
  • Pemberian oral
Dosis yang biasa diberikan sebagai dosis initial adalah 1 mg kemudian diikuti dengan dosis 0,5 mg setiap 2 jam sampai timbul gejala intioksikasi berupa diare. Jumlah dosis colchisine total biasanya 4 - 8 mg.
Kolkisin sendiri saat ini sudah jarang digunakan lagi karena resiko efek sampingnya yang relatif tinggi.
  1. Indometasin
  • Pemberian oral
Dosis initial 50 mg dan diulang setiap 6 - 8 jam tergantung beratnya serangan akut. Dosis dikurangi 25 mg tiap 8 jam sesudah serangan akut menghilang. Efek yang paling sering ditemui adalah gastric intolerance dan eksaserbasi ulkus peptikum.
  • Pemakaian melalui rektal
Indometasin dapat diabsorbsi dengan baik melalui rektum. Tablet supositoria mengandung 100 mg endometasin. Ini dapat digunakan untuk pengobatan pada serangan gout akut yang sedang maupun berat. Ini biasanya diberikan pada penderita yang tidak dapat diberikan pengobatan secara oral.
  • Kortikosteroid
Kortikosteroid digunakan bila terdapat kontra indikasi bagi pemberian colchisine dan indometasin. Obat-obatan yang tergolong ke dalam kortikosteroid seperti prednison, dexametason, dan hydrocortison memiliki potensi yang cukup ampuh untuk mengatasi berbagai keluhan inflamasi. Meskipun demikian, obat ini juga memiliki efek samping yang tidak mengenakkan. Karena itu, untuk penggunaan jangka panjang ada baiknya dikonsultasikan dengan dokter.
Obat golongan kortikosteroid diproduksi oleh kelenjar adrenal, kelenjar ini berada tepat diatas ginjal kita. kortikosteroid sanggup mereduksi sistem imun (kekebalan tubuh) dan inflamasi, orang dengan penyakit-penyakit yang terjadi karena proses dasar inflamasi seperti rheumatoid arthritis, gout arthritis (asam urat) dan alergi gejalanya bisa lebih ringan setelah pemberian kortikosteroid.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dibalik keefektifannya dalam mengatasi berbagai penyakit inflamasi, kortikosteroid juga menimbulkan efek samping. Bahkan efek samping yang ditimbulkan mungkin bisa cukup serius. Dengan mengetahui efek samping yang ditimbulkan diharapkan kita dapat mengambil langkah pengontrolannya. Kortikosteroid dapat menimbulkan efek jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Pengobatan gout kronik adalah berdasarkan usaha menurunkan produksi asam urat atau meningkatkan sekresi asam urat oleh ginjal. Allopurinol merupakan obat untuk penyakit gout pirai (asam urat). Pemberian obat Allopurinol dapat menghambat pembentukan asam urat dari prekursornya. Prekursor pembentukan asam urat adalah xantin dan hipoxantin. Dalam tubuh Alopurinol mengalami metabolisme menjadi oksipurinol (alozantin) yang dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase. Mekanisme kerja senyawa ini berdasarkan katabolisme purin dan mengurangi produksi asam urat, tanpa mengganggu biosintesa purin.
Obat ini dapat diberikan dengan dosis 300 mg sehari. Penurunan asam urat terjadi setelah 10 hari. Penghentian pengobatan menyebabkan kadar asam urat naik lagi seperti semula dalam 10 hari. Obat ini mempunyai efek samping menimbulkan reaksi hipersensitivitas antara lain ruam makulopapular didahului pruritus, urtikaria, eksfoliatif. Obat ini juga menimbulkan rasa kantuk, demam, sakit kepala, dermatitis, mual, muntah dan diare.
Pada orang yang memiliki hipersensitifitas ataupun alergi terhadap allopurinol, dapat terjadi gejala kemerahan pada kulit. Bagi orang yang mengalami reaksi alergi demikian, disarankan untuk menghentikan konsumsi allopurinol sesegera mungkin. Akan lebih baik lagi jika langsung menghubungi dokter.
Allopurinol juga dapat berinteraksi dengan berbagai jenis obat lain seperti antibiotika, kemoterapi kanker, diuretika, serta obat lain yang juga digunakan dalam pengobatan rheumatik. Karena itu, sebelum menggunakannya dokter dan apoteker harus mengetahui obat-obatan dan vitamin yang dikonsumsi.